batur_mount_bikeTahun 2010 diawali dengan pengalaman yang mengesankan, yaitu bersepeda sambil menikmati pemandangan di kaki Gunung dan Danau Batur.

Pengalaman ini sebelumnya tidak terduga sama sekali, meskipun rencana bersepeda di Bali sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Dalam sebulan terakhir saya mencari informasi pemandu yang dapat menemani saya bersepeda di Bali melalui trek yang tidak biasa, hingga akhirnya saya menemukan orang yang tepat, yaitu Bapak Wayan Kertayasa. Beliau adalah pemilik http://www.balicycling.com yang juga menjadi penyelenggara Bali Audax, yaitu program touring bersepeda keliling pulau Bali sepanjang 410 km dalam 2 hari !!!. Melalui email disepakati waktu dan lokasi bersepeda akan dibahas setibanya saya di Bali.

Di Bali jadwal family tour cukup padat hingga tas sepeda sempat tidak tersentuh dan baru tanggal 30 Desember 2009 saya hubungi kembali Pak Wayan. Mengingat Pak Wayan harus memandu para tamunya untuk latihan triathlon,  maka saya mendapat kesempatan bersepeda bersamanya pada tanggal 1 Januari 2010. Pak Wayan akan menemani saya menyusuri kaki Gunung Batur, melewati larva hitam dan danau Batur. Yes, it’s perfect way to start new year!!

no images were found

Maka pada 1 Januari 2010 jam 6 pagi, meski masih terasa ngantuk sisa tahun baruan semalam, saya segera bersiap-siap karena jam 7 pagi Pak Wayan datang menjemput. Lalu kami menuju Kintamani dengan  mampir sejenak di rumahnya di Bangli. Sepanjang perjalanan disuguhi pemandangan khas pedesaan, rumah adat Bali diantara persawahan. Setiba di puncak Kintamani, langsung turun +/- 5 km menuju tempat parkir kendaraan Pura Jati Toya, tempat kami mulai bersepeda.

Setelah unloading sepeda dan mampir ke warung untuk makan nasi campur dibungkus daun pisang (nasi jenggo / nasi kucing), kami memulai perjalanan jam 10 pagi melalui perbukitan sejuk beraspal. Anggap saja sebagai pemanasan. Memasuki daerah larva hitam, kondisi trek mulai offroad, kami bersepeda diantara berbatuan larva hitam. Kami harus berhati-hati karena sedikit saja terjatuh resiko luka terkena batu tajam. Tanjakan dan turunan beralaskan batuan larva dengan latar belakang Gunung Batur menjadi tantangan yang menarik untuk dinikmati. Hingga kami tiba di satu lokasi yang diberinya nama ”Believe it or not”. Yaitu sebuah tempat yang bersejarah pada saat Gunung Batur meletus  pada tanggal 21 September 1926 dimana  salah satu banguan Pura Batur tidak tebakar oleh api lahar. Api lahar  itu mengelilingi Pura Batur tersebut dan berhenti 2 meter  sebelum bangunan tersebut dengan ketinggian lebih dari 15 meter. Bisa dibayangkan betapa saat terjadi aliran lahar panas, ternyata Tuhan masih menunjukkan kebesaranNya untuk melindungi Pura tersebut. Hingga saat ini, di lokasi tersebut masih terdapat sebagian Pura dan dua pohon besar yang masih hijau, dikelilingi oleh batuan larva hitam. Gunung Batur telah berkali-kali meletus. Kegiatan letusan G. Batur yang tercatat dalam sejarah dimulai sejak tahun 1804 dan letusan terakhir terjadi tahun 2000. Sejak tahun 1804 hingga 2005,

Perjalanan dilanjutkan menuju jalan aspal dimana sebelah kirinya tebing Gunung Batur dan sebelah kanannya larva hitam. Nice view!! Jalanan tetap naik-turun membuat saya mulai mengatur napas sambil berfoto-foto.  Di perjalanan kami melewati Pura dan desa, suasananya mengingatkan saya dengan lembah Perbukitan Dieng di Jawa Tengah.

Di perjalanan Pak Wayan bercerita pengalamannya melaksanakan Bali Audax I di bulan November lalu. Bagi yang ingin mencoba touring bersepeda mengelilingi Pulau Bali bisa mengikuti Bali Audax II yang akan dilaksanakan tanggal 6-7 November 2010.

Saat tiba di perkebunan, kami tertarik melihat seorang ibu yang sedang menyortir buah mangga. Ini waktunya istirahat sambil menikmati mangga telor khas Gunung Batur, mangga sebesar telor berwarna kuning dan segar rasanya… Setelah menikmati 5 buah dan membungkus 2 kg mangga, perjalanan dilanjutkan kembali melalui jalan desa naik-turun yang aspalnya rusak.  Nikmat rasanya bersepeda di pengunungan yang udaranya sejuk dan bersih..

Kami telah melewati setengah perjalanan hingga tiba di Pura Hulundanu di sisi Danau Batur. Kami melanjutkan perjalanan melalui jalan mulus namun memiliki tanjakan dan turunan yang lebih curam, dengan pemandangan indah Danau Batur. Tenaga tersisa dimanfaatkan untuk menikmati jalur tersebut hingga kami tiba di titik finish tempat kami parkir kendaraan.

Total jarak 30 km dengan waktu tempuh sekitar 3 jam. Sebuah pengalaman bersepeda yang sangat  mengesankan di Pulau Bali… Setelah istirahat dan loading sepeda ke mobil, di perjalanan pulang  kami mampir di warung makan untuk menikmati nasi panas dengan ikan mujair bumbu kuning & pedas. Mantapp…

Di puncak Kintamani kami berpisah karena Pak Wayan ada acara keluarga. Bagi yang mau mencoba trek tersebut atau trek lainnya di Bali bisa kontak Pak Wayan Kertayasa.

Thanks Pak Wayan, sampe ketemu lagi..

Write by: Prama Nugraha